Resensi Terbaru

Ilo Ilo (2013)

Sutradara: Anthony Chen (Singapura)
Ilo-Ilo berisi relasi “kasta” antara atasan-bawahan, tua-muda, ortu-anak, keluarga-orang asing, guru-murid, badan besar-badan kecil, hingga hal sepele yang (pasti) terluputkan : masakan siapa yang lebih enak, ibu atau pembantu. Ini adalah sebagian kecil hal super biasa yang (seharusnya) bikin kita bosan menontonnya. 




Sokola Rimba (2013)

Sutradara: Riri Riza (Indonesia)
Sokola Rimba adalah cerita kebiasaan tentang ke-biasa-an. Sesuatu yang semakin pudar dari sinema kontemporer Indonesia belakangan. Indonesia hanya butuh jujur pada dirinya dan menampilkan ke-biasa-an sehari-hari apa adanya.





What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)

Sutradara: Mouly Surya (Indonesia)
Mouly tak cukup mengeluarkan usaha untuk menempatkan dirinya sedekat mungkin pada posisi/status anak-anak disabilitas tersebut karena bagi saya, ia telah gagal menjawab pertanyaan: Apakah normal menurut mereka? Sejauh mana mereka ingin “normal”?





Peculiar Vacation and Other Illnesses (2012)

Sutradara: Yosep Anggi Noen (Indonesia)
Menonton film terbaru Yosep Anggi Noen ini seperti melihat murid Tsai Ming-liang membuat film yang 100% ber-setting bumi Nusantara. Hadirnya satu film lagi yang mengedepankan kemanusiaan dengan segala kelogisan dan anti-logisnya dalam sinema Indonesia tak pelak menjadi pencapaian tersendiri.




The Tree of Life (2011)
Sutradara: Terrence Malick (USA)
"Unless you love, your life will flash by," Ketika Terrence Malick berbicara cinta dan rindu terhadap keluarganya.





As I was Moving Ahead Occasionally I Saw Brief Glimpses of Beauty (2000)
Sutradara: Jonas Mekas (USA)
Film ini mengajak kita ke suatu tempat, tempat yang mungkin merupakan fragmen dari surga, dan tempat dimana kita bisa merayakan art dan life secara bersamaan.




Nekromantik (1987)

Sutradara: Jörg Buttgereit (Jerman Barat)
Nekromantik tidak sekedar menjadi film eksploitasi erotisme menyimpang bagi para penggemar horror. Ternyata ini adalah film yang memiliki nilai-nilai seni.






The Fall of the House of Usher (1928)

Sutradara: James Sibley Watson & Melville Webber (USA)
Sebuah adaptasi yang unik dari kisah gothic klasik tersebut, terlebih lagi, sebuah pengalaman visual sepanjang tiga belas menit yang sangat berkesan.






The Word (1955)

Sutradara: Carl Theodor Dreyer (Denmark)
Dreyer menguji dan mengeksplorasi sifat dasar dari dari “faith” atau keyakinan yang universal walau penggambarannya melalui sebuah keluarga yang menganut ajaran agama tertentu.




Enter the Void (2009)

Sutradara: Gaspar Noé (Prancis/Jerman/Italia)
Gaspar Noe membawa kita ke dunia indah dengan warna-warni fluorescent. Dengan graphic sex encounter yang lebih banyak namun sedikit tampilan kekerasan dibanding Irreversible, Enter the Void dapat didapuk langsung sebagai cult classic.