Maya Deren : Interdisiplin Kamera, Dansa, dan Imaji Puitis (1)


“Use your freedom to experiment with visual ideas…Physical freedom includes time freedom—a freedom from budget imposed deadlines. But above all, the amateur filmmaker, with his small, light-weight equipment, has an inconspicuousness (for candid shooting) and a physical mobility which is well the envy of most professionals, burdened as they are by their many-ton monsters, cables and crews. Don’t forget that no tripod has yet been built which is as miraculously versatile in movement as the complex system of supports, joints, muscles, and nerves which is the human body, which, with a bit of practice, makes possible the enormous variety of camera angles and visual action. You have all this, and a brain too, in one neat, compact, mobile package. Cameras do not make films; filmmakers make films


Wanita yang sering disebut sebagai ‘mother of American Avant-Garde cinema’ ini lahir dengan nama Eleanora (mengikuti nama aktris Italia, Eleanora Duse) Derenkowsky di kota Kiev tahun 1917, masa-masa awal Revolusi Rusia. Keluarganya bermigrasi ke Amerika Serikat tahun 1922 dan menetap di kawasan Syracuse, New York. Eleanora terus melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan politik dan jurnalisme di NYU lalu meraih gelar master dalam English Literature dari Smith College tahun 1939, tepat saat meletusnya Perang Dunia II.

Ia lantas menjadi asisten pribadi Katherine Dunham, seorang koreografer dansa keturunan Afrika-Amerika sekaligus antropolog yang fokus mengupas kultur Afro-Karibia. Mereka berkelana mengadakan tur dansa keliling Amerika dimana Eleanora sering menyaksikan mentornya itu menjadi sasaran rasisme. Tapi pengaruh terbesar Katherina bagi karir Eleanora selanjutnya adalah pengenalannya terhadap konsep hubungan berkelindan antara dansa-ritual-transisi metafisika melalui budaya orang Haiti.

Tahun 1942, Eleanora bertemu Alexander Hackenshmied (Hammid), fotografer dan sinematografer ternama saat itu. Mereka menikah tak lama berselang. Kolaborasi kesadaran visual Alexander serta kepekaan puitis Eleanora pula yang menjadi faktor krusial dibalik formulasi identitas baru Eleanora. Setahun kemudian mereka melahirkan Meshes of The Afternoon, film berdurasi 13 menit yang kelak ditahbiskan sebagai salah satu mahakarya sinematik eksperimental dunia.

Tahun 1953, Eleanora menulis, “It was like finally finding a glove that fits. When I was writing poetry, I had, constantly, to transcribe my essentially visual image . . . into verbal form. In motion pictures, I no longer had to translate…and I could move directly from my imagination into film”. Saat ia merasa pribadinya sedang bertransformasi, ia meminta sang suami memberinya nama baru. Maka dunia pun memberi ucapan selamat datang pada Maya (Deren), mengikuti nama dewi ilusi dalam kepercayaan Hindu.


Kediaman utamanya adalah sebuah apartemen di Morton Street, Greenwich Village, New York. Apartemen ini adalah saksi bisu set film-filmnya, kantor publikasi, studio, sampai pertemuan-pertemuan antara sang pemilik dengan Dylan Thomas, Anais Nin, Salvador Dali, dan John Cage. Belakangan Maya ditemani Teiji Ito, seorang musisi yang ia nikahi pasca bercerai dengan Alexander, serta segerombolan kucing.

Ia hanya sempat menulis 2 buku sepanjang hidup. Namun keduanya ternyata memberi sumbangsih luar biasa. Buku pertama, Divine Horsemen: The Living Gods of Haiti, adalah salah satu buku terpenting mengenai kebudayaan Haiti. Buku kedua, An Anagram of Ideas on Art, Form, and Film, merangkum gagasan-gagasan ambisiusnya seputar teori film dan aestetik.

Tahun 1961, Maya Deren wafat mendadak akibat penyakit cerebral hemorrhage (versi lain menyebutkan ia terkena kutukan Voudou). Ia menyelesaikan 6 film pendek eksperimental serta 1 dokumenter yang ia rekam selama 4 tahun di Haiti. Segera setelah kematiannya, Jonas Mekas yang mendirikan Anthology Film Archive, dengan bantuan Stan Brakhage dan beberapa penggiat film eksperimental lain, memasukkan seluruh karya Maya Deren ke dalam sebuah kanon sinematik bertajuk Essential Cinema Series.

Di bagian kedua kita akan membahas keenam film pendek eksperimental serta dokumenter semata wayang Maya Deren plus filmnya yang belum sempat ia selesaikan, yakni :

Meshes of The Afternoon (1943)
The Witch’s Cradle (1943) - tidak selesai
At Land (1944)
A Study in Coreography for Camera (1945)
Ritual in Transfigured Time (1946)
Meditation on Violence (1948)
The Very Eye of Night (1958)
Divine Horsemen : The Living Gods of Haiti (1985, dokumenter, materi rekaman asli oleh Maya Deren antara tahun 1947 hingga tahun 1954)



Referensi

Durant, Mark. “A Life Choreographed for Camera”. In Aperture, No. 195, Summer 2009

The International Journal of Screendance, Volume Three : Fall 2013